Selasa, 27 April 2010

IDEOLOGI PERJUANGAN YOUNG GENERETION FREEDOM WEST PAPUA



IDEOLOGI PERJUANGAN YOUNG GENERETION FREEDOM WEST PAPUA

Oleh: RR bo’nay



Tigwon ,may 01, 2010
Salam satu perjuangan..

Generasi Muda Papua Merdeka, adalah organisasi sayap kanan yang terbentuk untuk menampung aspirasi anak muda di selueruh papua yang mana keberadaan GMPM sangant di perlukan oleh paramemuda dan pemudi papua sebagai wadah untuk menampung aspirsi mereka yang Selama ini kita ketahui sering di salah artikan oleh beberapa pihak, Kalau
ada argumentasi penolakan bahwa pemuda Papua yang berusia 16 – 30 tahun
belum siap memimpin, lalu sampai kapan baru pemuda siap memimpin??? Itu
argumentasi klasik, sesungguhnya hal itu merupakan slogan yang
menyembunyikan ketidaktulusan senior untuk memberdayakan “kami”.



Kami
menyadari bahwa selama ini kami hanya diperalat, untuk memenuhi ambisi
pribadi para senior, dan kini kami tegaskan: PERLAKUKAN KAMI SELAYAKNYA
SEORANG MANUSIA, BUKAN SEBAGAI ALAT !!!

Kami akan menyerukan: MEREKA ADALAH CERMIN YANG RETAK, TAK LAYAK UNTUK DI TELADANI.

oleh karena itu Pemuda dan Pemudi bangkitkan semangant jiwa mu
bersama-sama kita bangkit, dan teriakan.. MERDEKA..... MERDEKA...
MERDEKA... merdekakan dirimu dalam segalahal...

pemuda harus berani berreformasi... berrefomasi untuk sesuatu yang
positif... sebab hidup tiada mungkin tanpa perjuangan dan tanpa
pengorbanan.. berpegangan tangan satu dalam jiwa dan raga demi masa
depan PAPUA JAYA...
namun dengan demikian kami pemuda dan pemudi papua berikrar baersatu, dan mengesampingkan perbedaan kami, siapapun kita orang gunung atau orang pante kami bersatu dan menyatakan sikap untuk memperjuangkan kemerdekaan kami,
Ideologi kemerdekaan yang kami anut adalah kemerdekaan
dalam arti luas merdeka dari penjajahan kemalasan, kebodohan, keapatisan, kemiskinan yang dialami rakyat papua. yg kami lakukan adalah untuk mendapatkan atensi dari pihak yang berwewenang. klo hanya merdeka dari satu negara tapi pribadinya belum merdeka, siasia belaka….
Ada yang mengatakan, kmi in generasi penerus kbodhan, para pendahulu kami, yg mmperjuangkn kesìaan belaka, namun kami tetap pada pendirian kami, hidup tiada mungkin tanpa perjuanga,oleh karena itu kami akan terus berjuang smpe kmi berakhr dibalik peti mati perjuang yg dirintis oleh para pendahulu kami kami, akan tetap ...di teruskan oleh generasi yg akan datang,akan tetap berjuang demi tercpainya kemerdekaan di atas tanah kami tercinta,apakah kami ini salah +bodoh jika kami meprjangkn mlk hakmi?
Jika jalan prjuangn sprti ini yg di khndaki, ngapa kta msh salng, mmbdkn antra gunung n pante, buknxa kta 1 n mmpnyai ideolg sma? Mngapa kta tdk brstu n brjuang brdmpngn, untk tanah papua?
Apa bsa kta brstu? Untk papua?
Inilah yg
Mjdi tgas n tnggung jwb kta gnrsi muda untk mnyatukn dmi trcpainya 7an kta smua.
Salam satu perjuangan
Ko e Otua mo TANAH PAPUA ko hoku tofi'a
Papua dan Tuhan adalah warisan kami
PAPUA .MO.TE.ATUA


RR. Bo’ nay
YGFWP

Minggu, 25 April 2010

Rumpun bahasa Austronesia



Rumpun bahasa Austronesia adalah sebuah rumpun bahasa yang sangat luas penyebarannya di dunia. Dari Taiwan dan Hawaii di ujung utara sampai Selandia Baru (Aotearoa) di ujung selatan dan dari Madagaskar di ujung barat sampai Pulau Paskah (Rapanui) di ujung timur.
Istilah Austronesia

Austronesia adalah istilah mengacu pada suatu daerah yang dimana bahasa-bahasa Austronesia dituturkan, daerah tersebut mencakup oleh penduduk pulau Taiwan, kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti "Kepulauan Selatan" dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti "selatan" dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti "pulau".

Jika bahasa Jawa di Suriname dimasukkan, maka cakupan geografi juga mencakup daerah tersebut. Studi juga menunjukkan adanya masyarakat penutur bahasa mirip Melayu di pesisir Sri Langka.

Asal usul bangsa Austronesia

Untuk mendapat ide akan tanah air dari bangsa Austronesia, cendekiawan menyelidiki bukti dari arkeologi dan ilmu genetika. Penelaahan dari ilmu genetika memberikan hasil yang bertentangan. Beberapa peneliti menemukan bukti bahwa tanah air bangsa Austronesia purba berada pada benua Asia. (seperti Melton dkk., 1998), sedangkan yang lainnya mengikuti penelitian linguistik yang menyatakan bangsa Austronesia pada awalnya bermukim di Taiwan. Dari sudut pandang ilmu sejarah bahasa, bangsa Austronesia berasal dari Taiwan karena pada pulau ini dapat ditemukan pembagian terdalam bahasa-bahasa Austronesia dari rumpun bahasa Formosa asli. Bahasa-bahasa Formosa membentuk sembilan dari sepuluh cabang pada rumpun bahasa Austronesia . Comrie (2001:28) menemukan hal ini ketika ia menulis:
“ ... Bahasa-bahasa Formosa lebih beragam satu dengan yang lainnya dibandingkan seluruh bahasa-bahasa Austronesia digabung menjadi satu sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa terjadi perpecahan genetik dalam rumpun bahasa Austronesia diantara bahasa-bahasa Taiwan dan sisanya. Memang genetik bahasa di Taiwan sangatlah beragam sehingga mungkin saja bahasa-bahasa itu terdiri dari beberapa cabang utama dari rumpun bahasa Austronesia secara kesuluruhan. ”

Setidaknya sejak Sapir (1968), ahli bahasa telah menerima bahwa kronologi dari penyebaran sebuah keluarga bahasa dapat ditelusuri dari area dengan keberagaman bahasa yang besar ke area dengan keberagaman bahasa yang kecil. Walau beberapa cendekiawan menduga bahwa jumlah dari cabang-cabang diantara bahasa-bahasa Taiwan mungkin lebih sedikit dari perkiraan Blust sebesar 9 (seperti Li 2006), hanya ada sedikit perdebatan diantara para ahli bahasa dengan analisis dari keberagaman dan kesimpulan yang ditarik tentang asal dan arah dari migrasi rumpun bahasa Austronesia.

Bukti dari ilmu arkeologi menyarankan bahwa bangsa Austronesia bermukim di Taiwan sekitar delapan ribu tahun yang lalu . Dari pulau ini para pelaut bermigrasi ke Filipina, Indonesia, kemudian ke Madagaskar dekat benua Afrika dan ke seluruh Samudra Pasifik, mungkin dalam beberapa tahap, ke seluruh bagian yang sekarang diliputi oleh bahasa-bahasa Austronesia . Bukti dari ilmu sejarah bahasa menyarankan bahwa migrasi ini bermula sekitar enam ribu tahun yang lalu . Namun, bukti dari ilmu sejarah bahasa tidak dapat menjembatani celah antara dua periode ini.

Pandangan bahwa bukti dari ilmu bahasa menghubungkan bahasa Austronesia purba dengan bahasa-bahasa Tiongkok-Tibet seperti yang diajukan oleh Sagart (2002), adalah pandangan minoritas seperti yang dinyatakan oleh Fox (2004:8):
“ Disiratkan dalam diskusi tentang pengelompokan bahasa-bahasa Austronesia adalah permufakatan bahwa tanah air bangsa Austronesia berada di Taiwan. Daerah asal ini mungkin juga meliputi kepulauan Penghu diantara Taiwan dan Cina dan bahkan mungkin juga daerah-daerah pesisir di Cina daratan, terutamanya apabila leluhur bangsa Austronesia dipandang sebagai populasi dari komunitas dialek yang tinggal pada permukiman pesisir yang terpencar. ”

Analisis kebahasaan dari bahasa Austronesia purba berhenti pada pesisir barat Taiwan. Bahasa-bahasa Austronesia yang pernah dituturkan di daratan Cina tidak bertahan. Satu-satunya pengecualian, bahasa Chamic, adalah migrasi yang baru terjadi setelah penyebaran bangsa Austronesia

Penggolongan bahasa-bahasa Austronesia berikut diajukan oleh Blust. Penggolongan yang diajukannya bukanlah yang pertama dan bahkan ia juga mencantumkan paling sedikit tujuh belas penggolongan lainnya dan mendiskusikan fitur-fitur dan rincian dari pengelompokan tersebut. Beberapa ahli bahasa Formosa mempertentangkan rincian dari penggolongan itu namun penggolongan ini dalam garis besar tetap menjadi titik referensi untuk analisis ilmu bahasa saat ini. Dapat dilihat bahwa sembilan cabang utama dari bahasa Austronesia kesemuanya adalah bahasa-bahasa Formosa.

Austronesia

* Atayalik (Atayal, Seedik) [nama lain untuk Seediq:Truku, Taroko, Sediq]
* Formosa Timur
o Utara (Basai-Trobiawan, Kavalan)
o Tengah (Amis, Nataoran, Sakizaya)
o Barat Daya (Siraya)
* Puyuma
* Paiwan
* Rukai
* Tsouik (Tsou, Saaroa, Kanakanabu)
* Bunun
* Dataran Rendah Barat
o Dataran Tengah-Barat (Taokas-Babuza, Papora-Hoanya)
o Thao
* Formosa Barat Laut (Saisiyat, Kulon-Pazeh)
* Malayo-Polinesia (Lihat di bawah)

[sunting] Penggolongan bahasa-bahasa Malayo-Polinesia

Berikut adalah klasifikasi bahasa-bahasa Malayo-Polinesia yang disederhanakan oleh Wouk & Ross (2002)

Bahasa-bahasa Malayo-Polinesia

* Bahasa Kalimantan-Filipina atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Luar (Hesperonia Luar): terdiri dari banyak bahasa seperti Dayak Ngaju, Gorontalo, bahasa Bajau, bahasa-bahasa Minahasa, Tagalog, Cebuano, Hiligaynon, Ilokano, Kapampangan, Malagasi, dan Tausug
* Bahasa Malayo-Polinesia Inti (Kemungkinan menyebar dari Pulau Sulawesi)
o Bahasa Sunda-Sulawesi atau bahasa Malayo-Polinesia Barat Dalam (Hesperonia Dalam), contoh: Indonesia Barat, Bugis, Aceh, Cham (di Vietnam dan Kamboja), Melayu, Indonesia, Iban, Sunda, Jawa, Bali, Chamoru, dan Palau
o Bahasa Malayo-Polinesia Tengah-Timur
+ Bahasa Malayo-Polinesia Tengah atau bahasa Bandanesia: sekitar Laut Banda yaitu bahasa-bahasa di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan juga di Maluku
+ Bahasa Malayo-Polinesia Timur atau disebut juga bahasa Melanesia
# Halmahera Selatan-Papua Barat-Laut: beberapa bahasa di pulau Halmahera dan sebelah barat pulau Irian, contohnya bahasa Taba dan bahasa Biak
# Bahasa Oseanik: Termasuk semua bahasa-bahasa Austronesia di Melanesia dari Jayapura ke timur, Polinesia dan sebagian besar Mikronesia

Salah satu cabang terbesar adalah cabang Sundik yang menurunkan bahasa-bahasa Austronesia dengan jumlah penutur terbesar yaitu: Bahasa Jawa, Bahasa Melayu (dan Bahasa Indonesia), Bahasa Sunda, Bahasa Madura, Bahasa Aceh, Bahasa Batak dan Bahasa Bali.
[sunting] Kekerabatan dengan rumpun bahasa yang lain

Hubungan-hubungan genealogis antara rumpun bahasa Austronesia dan keluarga bahasa yang lainnya di Asia Tenggara telah diajukan dan umumnya disebut Filum Bahasa Austrik. Pada hipotesis filum Austrik dinyatakan bahwa semua bahasa di Tiongkok bagian selatan sebenarnya berkerabat yaitu rumpun bahasa Austronesia, bahasa Austro-Asia, bahasa Tai-Kadai dan bahasa Hmong-Mien (juga disebut Miao-Yao).

Secara skematis rumpun bahasa Austrik secara hipotetis adalah sebagai berikut:

Austrik

* Austronesia
* Tai-Kadai
* Hmong-Mien
* Austro-Asiatik

Para penutur keempat rumpun bahasa yang diduga berkerabat ini bermukim di daerah yang sekarang termasuk Tiongkok bagian selatan sampai kurang lebih pada antara tahun 2000 SM – 1000 SM. Kala itu suku bangsa Han, yang merupakan penutur bahasa Sino-Tibet, dari Tiongkok utara menyerbu ke selatan dan para penutur bahasa Austrik tercerai-berai. Hal ini yang diduga sebagai alasan mengapa kaum Austronesia lalu bermigrasi ke Taiwan dan ke kepulauan Asia Tenggara dan Samudra Pasifik lainnya.

Beberapa hipotesis filum Austrik juga mengajukan akan perubahan dari akar kata dwisuku kata di mana bahasa Austronesia menyimpan kedua suku kata sedangkan bahasa Austro-Asiatik menyimpan suku kata pertama dan bahasa Tai-Kadai menyimpan suku kata kedua. Sebagai contoh:
Austronesia purba *mata ‘mata
Austro-Asiatik purba *măt ‘mata'’
Tai-Kadai purba *taa ‘mata

Namun, satu-satunya proposal dari yang mematuhi metode perbandingan adalah hipotesis "Austro-Tai" yang menghubungkan rumpun bahasa Austronesia dengan rumpun bahasa Tai-Kadai. Roger Blench (2004:12) mengetakan tentang Austro-Tai bahwa:
“ Ostapirat mengasumsikan sebuah model sederhana dari sebuah perpecahan dengan para Daik [Tai-Kadai] sebagai orang-orang Austronesia yang menetap di daerah asalnya. Namun hal ini nampaknya tidak mungkin karena Daik nampak seperti percabangan dari bahasa Filipina Purba dan tidak mempunyai kerumitan seperti yang dimiliki oleh bahasa-bahasa Formosa. Mungkin dapat lebih baik dipandang bahwa penutur Daik Purba bermigrasi kembali dari Filipina utara ke daerah di pulau Hainan. Hal ini dapat menjelaskan perbedaan dari Hlai, Be, dan Daik sebagai hasil dari penstrukturan ulang secara radikal karena kontak dengan penutur bahasa-bahasa Miao-Yao dan Sinitik. ”

Atau dengan kata lain, pengelompokan dibawah Tai-Kadai akan menjadi cabang dari bahasa Kalimantan-Filipina. Namun, tidak ada dari proposal tersebut yang mendapat sambutan luas dari komunitas ilmu bahasa.

]Klasifikasi bahasa Jepang

Telah diajukan juga hipotesis bahwa bahasa Jepang mungkin adalah saudara jauh dari rumpun bahasa Austronesia. [Ada yang mengelompokkan bahasa ini dalam rumpun bahasa Austronesia berdasarkan beberapa kata-kata dan fonologi bahasa Jepang. Namun yang lain berpendapat bahwa bahasa Jepang termasuk rumpun bahasa Altai dan terutama mirip dengan cabang bahasa Mongol. Bahasa Korea kemungkinan besar termasuk rumpun bahasa yang sama pula. Bahasa Korea mirip dengan bahasa Jepang namun sejauh ini belum ada yang menghubungkannya dengan rumpun bahasa Austronesia. Namun perlu diberi catatan pula bahwa rumpun bahasa Altai masih dipertentangkan pula.

Sebagai contoh adalah beberapa kata dari bahasa Jepang yang diduga berasal dari rumpun bahasa Austronesia:

* hi yang berarti api dan berasal dari *PAN (Proto-Austronesia): *Xapuy
* ke yang berarti kayu

Hipotesis akan hubungn bahasa Jepang sebagai saudara dari bahasa-bahasa Austronesia ditolak oleh hampir seluruh pakar ilmu bahasa karena hanya ada sedikit bukti akan hubungan antara bahasa Jepang dan rumpun bahasa Austronesia dan kebanyakan ahli bahasa berpikir bahwa kesamaan yang sedikit ini adalah hasil dari pengaruh bahasa-bahasa Austronesia pada bahasa Jepang, mungkin melalui substratum. Mereka yang mengajukan skenario ini menyarankan bahwa rumpun bahasa Austronesia dulunya pernah meliputi pulau-pulau di utara dan selatan dari Taiwan. Lebih lanjut, tidak ada bukti genetis untuk hubungan yang dekat antara penutur bahasa-bahasa Austronesia dan bahasa-bahasa Japonik, sehingga apabila ada interaksi pra-sejarah antara penutur bahasa Austronesia purba dengan bahasa Japonik purba lebih mungkin interaksi itu adalah sebuah pertukaran budaya yang sederhana alih-alih percampuran etnis yang signifikan. Analisis genetis menunjukan secara konsisten bahwa orang-orang Ryukyu diantara Taiwan dan pulau-pulau utama Jepang lebih mirip dengan orang Jepang daripada orang asli Taiwan. Hal ini menyarankan bahwa apabila ada interaksi antara bangsa Austronesia purba dan bangsa Japonik purba, interaksi ini kemungkinan terjadi di benua Asia timur sebelum pengenalan bahasa-bahasa Austronesia ke Taiwan (atau setidaknya sebelum kepunahan hipotetis bahasa-bahasa Austronesia dari daratan Tiongkok), dan bahasa-bahasa Japonik ke Jepang. Perbendaharaan kata

Rumpun bahasa Austronesia didefinisikan menggunakan metode perbandingan bahasa untuk menemukan kata-kata yang seasal, yaitu kata-kata yang mirip dalam bunyi dan makna dan dapat ditunjukan berasal dari kata yang sama dari bahasa Austronesia purba menurut sebuah aturan yang regular. Beberapa kata seasal sangatlah stabil, sebagai contoh kata untuk mata pada banyak bahasa-bahasa Austronesia adalah "mata" juga mulai dari bahasa paling utara di Taiwan sampai bahasa paling selatan di Aotearoa.

Di bawah disajikan sebagai contoh untuk menunjukkan kekerabatan, kata-kata bilangan dari satu sampai sepuluh dalam beberapa bahasa Austronesia. Catatan: /e/ harus dibaca sebagai taling (misalkan dalam kata “keras”) dan /é/ sebagai pepet (misalkan dalam kata “lémpar”). Jika ada kesalahan, para pembaca dipersilakan memperbaikinya.
Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Proto-Austronesia *esa/isa *duSa *telu *Sepat * lima *enem *pitu *walu *Siwa *sa-puluq
Paiwan ita dusa celu sepac lima unem picu alu siva ta-puluq
Tagalog isá dalawá tatló ápat limá ánim pitó waló siyám sampû
Ma'anyan Isa' rueh telo epat dime enem pitu Balu' suei sapuluh
Bugis seddi dua téllu eppa lima enneng pitu aruwa asera seppulo
Malagasy iráy róa télo éfatra dímy énina fíto válo sívy fólo
Aceh sa duwa lhee peuet limöng nam tujôh lapan sikureueng plôh
Toba Batak sada duwa tolu opat lima onom pitu uwalu sia sampulu
Bali sa dua telu empat lima enem pitu akutus sia dasa
Sasak esa due telu empat lime enem pitu’ balu’ siwa’ sepulu
Jawa Kuna sa rwa telu pat lima nem pitu wwalu sanga sapuluh
Jawa Baru siji loro telu papat lima nem pitu wolu sanga sepuluh
Sunda hiji dua tilu opat lima genep tujuh dalapan salapan sapuluh
Madura settong dhua tello' empa' léma' ennem pétto' ballu' sanga' sapolo
Melayu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh
Minangkabau ciék duo tigo ampék limo anam tujuah salapan sambilan sapuluah
Rapanui tahi rua toru ha rima ono hitu va'u iva 'ahuru
Hawaii `ekahi `elua `ekolu `eha: `elima `eono `ehiku `ewalu `eiwa `umi
Sinama issah duah talluh mpat limah nnom pitu' walu' siam sangpu
Gayo sara roa tulu opat lime onom pitu waloh siwah sepuluh

Basis Data Perbendaharan Kata Bahasa-Bahasa Austronesia (pranala diberikan dibawah artikel) mencatat kata-kata (dikodekan menurut keseasalan) untuk sekitar 500 bahasa Austronesia.

Tipologi dan struktur

Sukar untuk menarik sebuah generalisasi yang berarti tentang bahasa-bahasa yang menyusun rumpun yang seberagam rumpun bahasa Austronesia. Pada garis besarnya, bahasa-bahasa Austronesia dapat dibagi menjadi tiga kelompok bahasa: tipe Filipina, tipe Indonesia, dan tipe pasca-Indonesia [6]. Kelompok yang pertama diwatakkan dengan urutan kata kata kerja-pertama dan pengubahan suara gramatik ala bahasa Filipina, fenomena yang seringkali dirujuk sebagai pemfokusan. Literatur yang berhubungan mulai menjauhi penggunaan istilah ini karena banyak ahli bahasa merasa bahwa fenomena pada bahasa bertipe ini lebih baik disebut sebagai suara gramatik.

Bahasa-bahasa Austronesia umumnya menggunakan pengulangan kata.

Fonologi bahasa-bahasa Austronesia tergolong sederhana dengan aturan pembentukan suku kata yang sangat terbatas dan jumlah fonem yang sedikit. Banyak dari bahasa-bahasa Austronesia tidak memperbolehkan sukukata dan gugusan konsonan. Beberapa bahasa memang memiliki gugusan-gugusan konsonan namun ini merupakan pengaruh dari bahasa-bahasa lain, terutama dari bahasa Arab, bahasa Sansekerta, dan bahasa Indo-Eropa lainnya.

Beberapa bahasa bahkan meminjam fonem dari bahasa lain seperti retrofleks dalam bahasa Jawa dan fonem berhembus dalam bahasa Madura yang diduga dipinjam dari Sansekerta. Namun banyak para pakar yang menentang bahwa fonem-fonem ini dipinjam dari bahasa Sansekerta. Mereka berpendapat bahwa fonem-fonem ini merupakan perkembangan sendiri saja.
Jumlah penutur

Secara total jumlah penutur bahasa Austronesia sekitar 300 juta jiwa. Berikut adalah bahasa-bahasa Austronesia diurutkan dari bahasa dengan penutur terbanyak.
Jumlah penutur bahasa-bahasa Austronesia Bahasa Jumlah Penutur
Sebagai Bahasa Ibu Sebagai Bahasa Resmi
Bahasa Jawa 76.000.000
Bahasa Sunda 20.000.000
Bahasa Melayu 19.000.000*
Bahasa Indonesia 25.000.000* 220.000.000
Bahasa Tagalog 24.000.000 70.000.000
Bahasa Cebu 15.000.000 30.000.000
Bahasa Malagasy 17.000.000
Bahasa Batak 14.000.000
Bahasa Madura 14.000.000
Bahasa Ilokano 8.000.000 10.000.000
Bahasa Minangkabau 7.000.000
Bahasa Hiligaynon 7.000.000 11.000.000
Bahasa Bikol 4.600.000
Bahasa Banjar 4.500.000
Bahasa Bali 4.000.000
Bahasa Bugis 4.000.000
Bahasa Tetum 800.000
Bahasa Samoa 370.000
Bahasa Fiji 350.000 550.000
Bahasa Tahiti 120.000
Bahasa Tonga 108.000
Bahasa Māori 100.000
Bahasa Kiribati 100.000
Bahasa Chamorro 60.000
Bahasa M̧ajeļ 44.000
Bahasa Nauru 6.000
Bahasa Hawai'i 1.000 8.000

* Statistik untuk kedua bahasa diperdebatkan.
Status resmi

Bahasa Austronesia terpenting ditilik dari status resminya ialah bahasa Melayu, yang menjadi bahasa resmi di Indonesia (sebagai bahasa Indonesia), Malaysia, dan Brunei. Bahasa Indonesia juga berstatus bahasa kerja di Timor Leste m. Bahasa Filipina (Filipino), yang merupakan bentuk baku dari bahasa Tagalog, adalah bahasa resmi Filipina. Di Timor Leste, bahasa Tetum, yang juga termasuk sebuah bahasa Austronesia, menjadi bahasa resmi di samping bahasa Portugis. Di Madagaskar, bahasa Malagasi adalah bahasa resmi. Di Aotearoa (Selandia Baru), bahasa Maori juga memiliki status bahasa resmi di samping bahasa Inggris.

Sabtu, 24 April 2010

Kejahatan" yang Dilakukan Wanita di Facebook

Banyak hal yang bisa Anda lakukan di Facebook. Tidak hanya sebagai wadah bersosialisasi, situs jejaring ini juga bisa dijadikan tempat untuk memantau dan memengaruhi orang lain.

Menurut beberapa pria, seperti yang dikutip dari foxnews.com, wanita bisa memanfaatkan Facebook, tidak hanya dalam hal positif, tapi juga hal negatif. Salah satunya jika terkait masalah hubungan dengan lawan jenis.

Berikut opini beberapa pria yang membeberkan hal mengejutkan yang bisa dilakukan wanita di Facebook.

1. Membuat profil palsu untuk menguntit mantan pacar

Hal satu ini mungkin tampak sedikit ekstrem. Tapi, banyak wanita sengaja membuat profil palsu untuk bisa memantau mantan pacar tanpa diketahui pasangannya. Daripada menelepon atau mengirimkan sms, sekadar menulis "Apa kabar?" di wall Facebook, cara ini memang lebih aman.

2. Memanipulasi penampilan

Menurut pria, tidak sedikit wanita yang sering memasang foto di Facebook untuk menampilkan citra diri yang tidak sesuai realitas. Dalam foto-foto mungkin ingin terlihat lebih seksi dan berani atau sebaliknya, dan berlawanan dengan kenyataan. Hati-hati, hal ini bisa menjadi bumerang buat wanita.

3. Menulis status berlebihan dan provokatif

Status di Facebook bisa dibaca siapa saja dan banyak wanita yang mengggunakannya untuk tujuan provokasi atau pamer. Bagi pria, hal yang paling menyebalkan adalah "curhat", soal kehidupan pribadi di status. Menurut pria, lebih baik berbicara langsung daripada mengumbarnya di

Facebook, karena kesannya seperti mengharap belas kasihan. Selain itu, pamer soal kelebihan atau tempat yang didatangi dan langsung memasangnya di status.

4. Memasang foto ambigu

Status sudah berhubungan dengan seseorang, tetapi dalam beberapa foto terlihat mesra dengan pria lain. Hal ini seperti ingin "membakar" rasa cemburu pasangan dengan cara kekanakan. Foto ambigu itu juga menurut pria, sengaja untuk membuat orang lain mempertanyakan hubungannya, dan

memberikan perhatian padanya.

5. Status hubungan palsu

Beberapa wanita lajang banyak memasang status hubungan dengan "in a relationship". Hal ini dilakukan untuk menghindari reaksi "kasihan" orang atas statusnya yang masih lajang. Hal ini menurut pria, sangat tidak masuk akal, karena justru status tersebut menghambatnya mendapat

pasangan.

Apakah Anda juga melakukan hal sama? Hati-hati, menurut opini pria, kebiasaan ini bisa menjadi bumerang bagi wanita! rio bonay

Indonesian police attack peaceful demonstration in Manokwari, 22nd April...

Jumat, 23 April 2010

WACANA PEMBENTUKAN REPUBLIK AL-ISLAM -FAK-FAK


WACANA PEMBENTUKAN REPUBLIK AL-ISLAM -FAK-FAK
Oleh : captain romario fabrizio bonay.S.com
Chief Warrant Officer PAPUA ARMY
( di kutip dari sumber Email dari sulaimanbauw_raiff@ymail.com yang di kirimkan kea kun email riodejaneyrog@yahoo.co.id )

SALAM MERDEKA TANAH KU PAPUA DAN DIBERKATI SALAM DALAM TUHAN KITA YESUS KRISTUS..

Belakangan ini santer terdengar di kalanga ulama dan tokoh agama di salah satu kabupaten di Propinsi termuda di wilayah NKRI yaitu kabupaten FAK-FAK Provinsi PAPUA BARAT. Wacana yang berkembang adalah rencana segelintir orang
( contoh bendera RAIFF )

yang menamakan diri mereka AL-REFISAF ( GERAKAN REFOLUSI AL-ISLAM FAK-FAK)
Gerakan ini mengklaim memiliki pengikut sabanyak 856 orang yang tersebar di seluruh Kabupatn FAK-FAK, Adalah HASAN SULAIMAN BOUW BIN AHMAD BAUW, Pimpinan dari Gerakan AL-Refisaf Mengklaim bahwa pembentukan Reubik AL-ISLAM FAK-FAK, Di dasari karena menurut sejarah sebelun bergabug dengan kesultanan Ternate&tiodore Fak –FAK nerupakan wilayah yang takberpemilik.. sebagian besar mereka yang bermukim di sana merupakan masyarakat buangan dari daerah timur tengah.
Menurut jendral Al-Reisaf.. dasar dia dan rekan-rekanya untuk medirikan republik islam fak-fak mereka siap berjihad.. untuk membangun RAIFF . Adapn menurut pengakuan sang jendral yang merupakan putra asli fak –fak dari keturunan timur tengah, yang merupakan lulusan camp pelatihan mindanou filipin.
Mereka memiliki persenjataan yang lengkap, di tambah 500 kavaleri siap tempur melawan pemerintah Indonesia.. namun ini baru wacana yang berkembang,
Saya pun turun mencari orang yang bernama JENDRAL HASAN SULAIMAN BAUW Bin AHMAD BAUW, sosok sental yang digadang gadangkan sebagai pemimpin tertinggi RAIFF Namun seperti pepatah bagai mencari jarum dalan setumpuk jerami sosok sang jendarl tak bisa di temukan di kota fak fak dari perkotaan sampai pedalaman tak ada yang pernah mengenal nama sang jendral…
Jadi dapat di simpulkan bahwa pembentukan Negara AL ISLAM FAK – FAK Hanya lah wacana yang berkembang ssaja. Namun yang dapat di temukan .. adalah selembar contoh Bendera republik yang di kirimkan kepada penulis melalui akun yahoo namun sang penggirim sangat susah untuk di hubungi dan di mintai konfirmasi mengenai cerita sebenarnya .
Nama dan pemilik akun pengirim INFORMASI
NAMA : SULAIMAN BAUW
sulaimanbauw_raiff@ymail.com
namun sangat sulit untuk di temukan..
PARMY ( nama untuk anggota group FB PAPUA ARMY ) ada yang mengenal atau tau terhadap nama dan punya info mengenai nama dan orang di atas mohon di berikan info kepada penulus melalui group PAPUA ARMY untuk di minta konfirmasi mengenai kebenaran berita tersebut.

SALAM
PAPUA ARMY

CAPTEIN ROMARIO FABRIZIO BONAY
Chief Warrant officer PAPUA ARMY
Admin Papua Army

Selasa, 20 April 2010


Give me freedom, give me fire, give me reason, take me higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin , as we lose our inhabition,
Celebration its around us, every nation, all around us
Singin forever young, singin songs underneath that sun
Lets rejoice in the beautiful game.
And together at the end of the day.
WE ALL SAY
When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom Just like a wavin’ flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back
When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom
Just like a wavin’ flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes
Oooooooooooooh woooooooooohh hohoho
Give you freedom, give you fire, give you reason, take you higher
See the champions, take the field now, you define us, make us feel proud
In the streets are, exaliftin, every loser in ambition,
Celebration, its around us, every nations, all around us
Singin forever young, singin songs underneath that sun
Lets rejoice in the beautiful game.
And together at the end of the day.
WE ALL SAY
When I get older, I will be stronger
They’ll call me freedom
Just like a wavin’ flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back
When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom
Just like a wavin’ flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes
Wooooooooo Ohohohoooooooo ! OOOoooooh Wooooooooo
WE ALL SAY !
When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom
Just like a wavin’ flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes back
When I get older I will be stronger
They’ll call me freedom
Just like a wavin’ flag
And then it goes back
And then it goes back
And then it goes
Wooo hooooo hohohohoooooo
And everybody will be singinit
Wooooooooo ohohohooooo
And we are all singinit

study & beasiswa

Request a Fulbright Senior Specialist
Application for Host Institutions

(Please note: Host institution is required to provide lodging accommodation, meals and incidental expenses/M&IE, and local transportation
to the Fulbright Senior Specialist for the duration of the grant period.)

This form is for the use of academic institution that wish to request a Fulbright Senior Specialist. Please return the completed form to The Executive Director, Fulbright Indonesia, American Indonesian Exchange Foundation, Gedung Balai Pustaka Lt. 6, Jl. Gunung Sahari Raya No. 4, Jakarta 10720. You can also fax the form to (021) 3452050 or send it as an e-mail attachment to rfadillah@aminef.or.id.

Instructions to potential host institutions. The recruitment effort for your program request can be most effective if:
1. Careful attention is given to the Project description, purpose, impact on host institution, potential for institutional linkages to ensure adequate detail in describing the scope of work.
2. Adequate lead time is given for recruitment of specialists who best fit the program request.
3. Flexibility in the time frame of the proposed project is allowed for in order to accommodate the various schedule of potential Fulbright Senior Specialist candidates.

PROGRAM INFORMATION

Field Requested Primary Fields
(Choose only one primary fields. Anthropology Archaeology
For U.S. Studies, please also specify Business Administration Communications/Journalism
one sub-field.) Economics Education
Environmental Science Information Technology
Law Library Science
Political Science Public Administration
Sociology Social Work
Agriculture Applied Linguistics/TEFL
Urban Planning Public/Global Health
Peace and Conflict Resolution Studies
U.S. Studies - GENERAL U.S. Studies - Art
U.S. Studies - Art History U.S. Studies - Dance
U.S. Studies - History U.S. Studies - Literature
U.S. Studies - Music U.S. Studies - Popular Culture
U.S. Studies - Religious Studies U.S. Studies - Theater
U.S. Studies - Women’s Studies

Specialization desired within the field
requested: _________________________________________________________

Type of Activity Requested Present lectures at graduate and undergraduate levels
Participate in or lead seminars or workshops at overseas academic institutions
Conduct needs assessments, surveys, institutional or programmatic research
Take part in specialized academic programs and conferences
Consult with administrators & instructors of post-secondary institutions on faculty development
Develop and/or assess academic curricula or educational materials
Conduct teacher-training programs at the tertiary level
Other (please describe): ___________________________________________________________



Name of Institution Hosting the Award:

City:
Contact Person/Title:
Telephone Number/HP:
E-mail Address
Web Address:


Project Description:
(In order to provide the best possible
matches of specialists with program requests, please be
very specific as to the type of and scope of work that the
specialist would engage in.) Attach additional sheet if
necessary.


Project Purpose:
(Describe the program objectives and provide
Background on th eissues an d institutions involved.)
(not more than 500 words)



Project impact on host institution: Please comment
on the project’s potential impact on the host
institution. Not more than 500 words.


Project potential for institutional linkages:
(Please describe project’s potential for developing
institutional linkages between host
institution and grantee’s home institution.)
(not more than 500 words)

Length of Grant: (Grant Length may be from 2-6 weeks.) (days)

Proposed Starting Date:
(Please advise the date and time of the program
In local time)

Preferred Arrival Date:

Number of Program Days Requested:

Flexibility of time frame. Providing flexibility in the
time frame of the requested project may result in a
broader pool of candidates from which to choose.
Please describe the extent (in days or month)
of the host institution’s flexibility



Contact Information for Person Responsible for lodging Arrangements:


Name:
Professional Title:
Telephone Number/HP:
E-mail Address



Lodging Arrangements
Describe the lodging arrangements that have been made
for the Specialist (lodging for the duration of the stay
should be arranged ahead pf arriva). If in-kind
coverage of cost share, please descrbe.
If monies will be paid directly to the grantee,
please indicate the amount.

Estimated US Dollar amount
Lodging is available: from start date (mm/dd/yyyy)
To End date: (mm/dd/yyyy)


Meals Arrangements
Describe arrangements for coverage of meals.
If in-kind coverage of cost share, please descrbe.
If monies will be paid directly to the grantee,
please indicate the amount.

Estimated US Dollar amount



SPECIALIST DESCRIPTION
Type of Specialist Required (check one) Academic Professional Either

QUALIFICATION PREFERRED
Degree:
Minimum years of teaching experience:
Academic rank preferred:
Language requirements:

Audience(s) (One way of determining the level of grantee
expertise needed for a program is to know with whom
he/she will be working. If the name of the audience does
not make clear their level of sophistication, please
elaborate).

Other:



If this is a request for a specific individual (Name Request), please provide as much of the following as possible: Note: Host institutions may list specific individuals in whom the institution is particularly interested and may invite such candidates to apply with the understanding that the invitation does not constitute a commitment or a preference in final consideration.

Name of Person Requested (Note: the requested
individual must be a U.S. citizen):
Title of Person Requested:
Institution:
Department (if applicable):
Address:
Telephone Number(s):
Fax Numbers:
E-mail Address(es):
Provide a brief justification for requesting this person: